Tembilahan – Minggu (3/5/2026) pagi, Lapangan Mapolres Indragiri Hilir di Jalan Gajah Mada No. 2 tak hanya jadi tempat baris-berbaris. Ia berubah jadi ruang temu hati. Apel Gabungan Hari Buruh Internasional digelar. Polisi, buruh, mahasiswa, wartawan, pejabat daerah, semua berdiri sama tinggi. Karena May Day bukan tentang seragam. Ia tentang keringat yang sama-sama jatuh untuk Indonesia.
Pukul 07.00 WIB, apel dimulai. Bupati Indragiri Hilir yang diwakili Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Muammar Gaddafi, http://S.Ag., memimpin barisan. Di sampingnya, Wakil Ketua II DPRD Asmadi, S.H., Kapolres Indragiri Hilir AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K., Pasi Ops Kodim 0314/Inhil Kapten Agus Purwanto, Wakapolres Kompol Maitertika, S.H., M.H., Kabag Ops Kompol Buha Siahaan, S.H., hingga perwakilan buruh, mahasiswa, dan insan pers. Semua hadir bukan untuk upacara semata. Tapi untuk merayakan manusia pekerja.
Apel usai, gotong royong dimulai. Sapu beradu dengan debu. Senyum beradu dengan peluh. Lalu makan bersama. Ada tawa di antara suap nasi. Ada hiburan yang menghangatkan. Bibit pohon dibagikan. Sembako diserahkan. Karena May Day di Inhil tak diisi orasi yang lantang. Ia diisi aksi yang mengenyangkan, yang menghijaukan, yang mempersatukan.
Muammar Gaddafi menyampaikan pesan Bupati dengan suara yang teduh. “Peringatan May Day ini bukan hanya menjadi simbol perjuangan pekerja, tetapi juga menjadi ajang memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial melalui kegiatan positif seperti gotong royong, pembagian sembako, dan penyerahan bibit pohon,” ujarnya. Di tangannya, May Day bukan hari menuntut. Ia hari merawat. Merawat asa buruh, merawat bumi, merawat persaudaraan.
Ia tegaskan lagi, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir tak tinggal diam. “Berkomitmen dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja melalui berbagai kebijakan strategis, di antaranya menciptakan iklim investasi yang kondusif, penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, serta membuka peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat.” Karena kesejahteraan tak lahir dari pidato. Ia lahir dari kebijakan yang memihak.
Ajakan itu mengalir untuk semua. “Seluruh elemen masyarakat diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkan disiplin, etos kerja, serta produktivitas sesuai dengan tema May Day Tahun 2026 yakni ‘Kolaborasi Bersama Mewujudkan Kemajuan Industri dan Kesejahteraan Pekerja’.” Kolaborasi. Kata kunci yang dirajut pagi itu. Antara tangan buruh, pena wartawan, dan lencana polisi.
Kapolres Indragiri Hilir AKBP Farouk Oktora, S.H., S.I.K. menutup dengan janji yang menenangkan. “Polres Inhil berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan masyarakat yang positif serta memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga. Semangat kebersamaan dalam peringatan May Day ini diharapkan dapat mempererat persatuan serta meningkatkan kesejahteraan pekerja di Kabupaten Indragiri Hilir,” ujar Kapolres. Karena polisi tahu, buruh yang sejahtera adalah benteng keamanan paling kokoh.
Pagi itu di Tembilahan, May Day dirayakan dengan cara paling Indonesia: gotong royong. Tak ada sekat antara aparat dan rakyat. Tak ada jarak antara pejabat dan pekerja. Yang ada hanya satu: keyakinan bahwa negeri ini dibangun bersama. Dari keringat buruh, dari doa ibu, dari pengabdian aparat.
Dan ketika bibit pohon itu ditanam, ia bukan sekadar pohon. Ia harapan. Harapan agar industri maju, pekerja sejahtera, dan Inhil tetap teduh dalam persatuan. Karena May Day 2026 mengajarkan kita satu hal: kemajuan tak berarti apa-apa tanpa kebersamaan.(*)

