Pencarian

Kamis Penuh Haru di Lapas Tembilahan: Pelukan Keluarga Jadi Obat, Prayitno Pastikan Layanan Kunjungan Hangat dan Aman

Tembilahan – Kamis (30/4/2026), pintu Lapas Kelas IIA Tembilahan terbuka bukan untuk bebas, tapi untuk rindu. Sejak pagi, area pendaftaran dipadati keluarga warga binaan Blok Tahanan. Mereka datang membawa doa, membawa kabar dari rumah, membawa pelukan yang dirindukan tembok tinggi. Layanan kunjungan tatap muka kembali digelar, dengan satu janji: humanis melayani, tegas menjaga.

Petugas berdiri sigap. Senyum diberi, arahan disampaikan, tapi mata tetap awas. Pemeriksaan badan dan barang bawaan dilakukan teliti, sesuai SOP. “Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang masuk ke dalam lingkungan Lapas, sembari tetap menjaga kenyamanan para pengunjung,” begitu catatan dari lapangan. Karena keamanan tak boleh longgar, dan kenyamanan pengunjung tak boleh diabaikan.

Di tengah kesibukan itu, Kepala Lapas Kelas IIA Tembilahan, Prayitno, turun langsung. Ia berjalan, ia memantau, ia memastikan. “Kami terus berkomitmen untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Setiap pengunjung adalah tamu yang harus dilayani dengan baik, namun integritas keamanan tidak boleh dikompromikan sedikit pun,” ujar Prayitno. Kalimat yang lahir dari tanggung jawab. Bahwa di balik jeruji, kemanusiaan tetap dijaga.

Bagi Prayitno, kunjungan ini lebih dari sekadar jadwal rutin tiap Kamis. “Lebih lanjut, Prayitno menyampaikan opininya bahwa keberhasilan layanan kunjungan ini merupakan hasil dari sinergi antara kesadaran masyarakat dan dedikasi petugas. Menurutnya, layanan tatap muka ini bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan bagian dari proses pembinaan mental bagi para tahanan,” tuturnya. Pertemuan singkat itu obat. Obat rindu, obat lelah, obat putus asa.

Ada mata berkaca-kaca di ruang kunjungan. Ada tangan yang saling menggenggam erat. Ada anak yang memeluk ayahnya, ada ibu yang mengelus kepala anaknya. Untuk sesaat, tembok Lapas seolah runtuh. Untuk sesaat, mereka bukan warga binaan dan pembesuk. Mereka hanya keluarga yang saling menguatkan.

“Dengan adanya dukungan moral dari keluarga melalui kunjungan yang tertib, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas keamanan dan ketertiban di dalam Lapas Kelas IIA Tembilahan,” tambah Prayitno. Karena napi yang hatinya tenang, lebih mudah dibina. Karena tahanan yang merasa dicintai, lebih punya alasan untuk berubah.

Petugas pemasyarakatan bekerja dalam diam. Mengatur antrean, memeriksa dengan santun, mengawasi tanpa menekan. Sebab mereka tahu, yang datang adalah orang-orang yang hatinya sedang rapuh. Maka pelayanan prima bukan sekadar slogan. Ia diwujudkan dalam senyum, dalam sabar, dalam ketegasan yang tak melukai.

Kamis itu, Lapas Tembilahan tak hanya menjalankan SOP. Ia merawat harapan. Ia menjaga ikatan keluarga agar tak putus oleh jeruji. Ia membuktikan bahwa hukum boleh membatasi fisik, tapi tak boleh mematikan kasih.

Dari Tembilahan, pesan itu mengalir pelan. Bahwa pembinaan terbaik adalah yang memanusiakan. Bahwa keamanan terbaik adalah yang lahir dari ketertiban yang tulus. Dan selama pintu kunjungan masih terbuka dengan hangat, maka selalu ada jalan pulang bagi mereka yang mau berubah.(*)