PEKANBARU – Ada pertemuan yang tidak dimulai dengan presentasi dan slide. Ada pertemuan yang dimulai dengan senyum, jabat tangan, dan aroma kopi.
Kamis malam, 16 Juli 2026. Di Pairing Coffee, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Pekanbaru, suasana berbeda terasa. Tidak ada jarak antara korporasi dan media. Tidak ada sekat antara perusahaan energi dan insan pers.
PT Patra Drilling Contractor, PDC, memilih duduk bersila dalam makna kias. Duduk bersama Komunitas Jurnalis Energi Nasional, Koneksi, Provinsi Riau. Bukan untuk berwacana, tapi untuk bersilaturahmi. Untuk saling mengenal, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Karena PDC percaya, kerja besar di hulu migas tidak akan bermakna jika tidak sampai ke ruang-ruang rumah masyarakat. Dan yang menyampaikan itu semua adalah pena-pena jurnalis yang setiap hari mengawal isu energi.
Malam itu, yang datang bukan hanya nama dan jabatan. Yang datang adalah cerita. Cerita tentang peran, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana sebuah perusahaan penunjang ikut menjaga denyut nadi energi Indonesia.
Harun, Jr. Analyst CSR dan Stakeholder PDC, bersama M. Hasbi Al Qusyairi, Admin Area FLS, membuka obrolan dengan bahasa yang membumi. Ia tidak bicara dengan istilah teknis yang jauh. Ia bercerita tentang keluarga besar.
"Kalau diibaratkan keluarga, di ekosistem hulu migas Pertamina ini, PT Pertamina Hulu Energi itu kakek buyutnya. Beliau yang menjaga wilayah kerja. Lalu ada PDSI, kakeknya, yang menjalankan pengeboran utama. Nah, PDC ini lahir sebagai anak dari PDSI. Kami cicitnya," ujar Harun sambil tersenyum.
Tawa kecil pecah. Tapi di balik analogi sederhana itu, ada pesan penting. Bahwa setiap generasi punya peran. Bahwa setiap anak, cucu, cicit, punya tugas untuk menjaga rumah besar ini tetap berdiri.
"Kami mungkin bukan yang mengebor langsung. Tapi kami ada di setiap langkah yang memastikan pengeboran itu bisa jalan. Kami yang memastikan pekerja makan tepat waktu lewat layanan Catering dan Housekeeping. Kami yang memastikan logistik sampai, transportasi aman, tenaga kerja siap, dan infrastruktur penunjang berdiri. Kami bekerja di non-core services, tapi dampaknya core untuk kelancaran operasi di wilayah kerja PHE," lanjut Harun.
Ia berhenti sejenak. Menatap para jurnalis di hadapannya.
"Karena pada akhirnya, kami semua bekerja untuk satu hal. Menjaga agar lampu di rumah-rumah rakyat tetap menyala. Menjaga agar industri di negeri ini terus bergerak. Menjaga kemandirian energi Indonesia."
Kata-kata itu menggantung di udara. Mengendap. Karena energi bukan sekadar soal minyak dan gas. Energi adalah tentang kehidupan.
Menyambut itu, Ketua Koneksi Riau, Hari Jummaulana, mengangguk. Ia tahu persis bagaimana pentingnya jembatan antara industri dan publik.
"Kami sangat menyambut baik silaturahmi ini. Jujur, kami sering mendengar nama PDC di lapangan, tapi belum banyak ruang untuk duduk sedekat ini. Padahal untuk menulis dengan benar, untuk mengedukasi masyarakat, kami butuh mendengar langsung dari sumbernya," ungkap Hari.
Suara Hari tenang, tapi tegas.
"Energi adalah isu strategis nasional. Masyarakat berhak tahu bagaimana perusahaan seperti PDC bekerja, bagaimana kontribusinya, bagaimana juga program CSR-nya menyentuh masyarakat di Riau. Harapan kami, pertemuan ini bukan yang terakhir. Mari kita buat kolaborasi yang konkret. Kita sajikan berita yang tidak hanya cepat, tapi juga akurat, edukatif, dan berimbang."
Di luar, malam Pekanbaru berjalan seperti biasa. Kendaraan lalu lalang. Tapi di dalam Pairing Coffee, sedang terjadi sesuatu yang penting. Sedang terjadi penyamaan frekuensi.
Antara mereka yang bekerja di bawah terik rig dan lumpur. Dengan mereka yang bekerja di bawah lampu redaksi dan hujan liputan.
Diskusi mengalir panjang. Ada tanya tentang tantangan operasi di daerah terpencil. Ada tanya tentang program pemberdayaan masyarakat. Ada tanya tentang bagaimana PDC melihat masa depan transisi energi. Semua dijawab dengan terbuka.
Tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena silaturahmi memang tempatnya kejujuran.
Menjelang akhir, tidak ada kesimpulan kaku. Yang ada hanya komitmen. Komitmen untuk terus berkomunikasi. Komitmen untuk saling mendukung. Komitmen bahwa menjaga Indonesia itu tugas bersama.
Acara ditutup dengan foto bersama. Di belakang mereka, lampu kota Pekanbaru temaram. Di depan mereka, ada harapan baru.
Sebuah harapan bahwa dari meja kopi ini, akan lahir tulisan-tulisan yang mencerahkan. Akan lahir pemahaman masyarakat yang lebih baik tentang energi. Akan lahir sinergi yang tidak hanya menguntungkan perusahaan dan media, tapi juga rakyat.
Karena pada akhirnya, baik PDC maupun Koneksi, sedang berjalan di jalan yang sama. Jalan pengabdian untuk negeri.
Berbeda seragam. Berbeda alat kerja. PDC dengan helm dan safety shoes. Koneksi dengan kamera dan catatan.
Tapi tujuannya satu. Menjaga Indonesia tetap terang.
Dari secangkir kopi di Sudirman, lahirlah janji. Janji untuk terus bersinergi. Janji untuk terus menjaga. Demi energi, demi rakyat, demi Indonesia.(*)

